Apakah Kecanduan Gadget Bisa Membuat Anak Terlambat Bicara? Simak Berikut Ini!

Apakah Kecanduan Gadget Bisa Membuat Anak Terlambat Bicara? Simak Berikut Ini!

Pemakaian gawai atau gawai di masa kini, selain dapat membantu, juga bisa membuat masalah. Termasuk ketika orangtua berurusan dengan pengasuhan anak. Agar bisa membuat anak menjadi “tenang”, para orangtua kerap memberi tablet atau smartphone kepada anak sebagai mainan. Sampai taraf tertentu, tindakan itu dapat dipahami.

Apabila anak bisa tenang, orangtua dapat melanjutkan aktivitas lain dengan lebih leluasa. Hanya saja, banyak yang tidak mengetahui bahwa bermain gawai secara berlebihan, apalagi ketika masih berusia 3–6 tahun, bisa berisiko membuat anak mengalami keterlambatan bicara. Kok bisa anak terlambat bicara karena gawai? Silakan simak ulasannya pada artikel ini.

Bermain Gawai Merupakan Aktivitas Satu Arah

Anak bisa tidak dilatih dalam memberikan respons balik jika selalu bermain gawai. Berbeda saat ada orang yang ikut bermain bersama dengan anak. Plus, di usia 3-6 tahun merupakan periode kritis perkembangan bicara.

Pada usia itulah kesiapan dalam kemampuan bicara menjadi hal yang penting saat memasuki tahap perkembangan dan jenjang pendidikan yang lebih lanjut. Bermain gawai berlebihan dapat mengganggu kemampuan konsentrasi, kognitif, fisik-motorik, verbal-bahasa, serta emosi-sosial anak.

Diperkirakan dari sebuah alat skrining keterlambatan bahasa, para peneliti menyatakan bahwa korelasi diantara waktu bermain gawai dengan keterlambatan berbicara. Setiap bertambah 30 menit bermain gawai, maka akan terjadi sekitar 49 persen peningkatan risiko keterlambatan bicara.

Penelitian yang satu ini juga melibatkan 894 anak-anak yang berusia antara 6 bulan sampai 2 tahun antara tahun 2011 hingga 2015. Pengamatan juga pernah dilakukan selama kurang lebih 18 bulan dan hasilnya sekitar 20 persen anak-anak menikmati gawai rata-rata 28 menit dalam seharinya.

Timbul Efek yang Sama dengan Kecanduan Televisi

Risiko dalam penggunaan gawai ini hampir sama dengan risiko saat menonton televisi. Penelitian oleh Saemi Hong dan Haewon Byeon di Korea telah menemukan fakta bahwa para balita yang masih berusia 2 tahun menonton TV hingga kurang lebih 1,21 jam per hari.

Penelitian ini dilakukan di tahun 2010 pada 1.778 balita, 906 laki-laki dan 872 perempuan. Hasilnya menyatakan bahwa risiko keterlambatan bicara semakin meningkat seiring dengan peningkatan waktu menonton TV.

Balita dengan waktu lebih dari 2 jam namun kurang dari 3 jam menonton TV mengalami risiko keterlambatan bicara sekitar 2,7 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang menonton kurang dari 1 jam saja. Risiko bertambah 3 kali lebih tinggi untuk anak yang mempunyai waktu nonton lebih dari 3 jam.

Penelitian selanjutnya juga dilakukan terhadap 56 anak dengan keterlambatan bicara dan 110 anak yang normal, dan berusia 15-48 bulan. Disimpulkan fakta bahwa anak-anak dengan keterlambatan bicara mulai menonton televisi pada usia yang lebih awal. Mereka yang mulai menonton televisi sebelum usianya 12 bulan dengan waktu lebih dari 2 jam/ hari mempunyai risiko enam kali lebih tinggi dapat mengalami keterlambatan bicara.

Apa yang Seharusnya Dilakukan oleh Orang Tua?

Karena kecanduan gawai pada anak bisa menimbulkan masalah yang memprihatinkan, American Academy of Pediatrics melarang TV dan penggunaan media untuk anak-anak yang masih berusia di bawah 2 tahun. Mereka mendorong permainan interaktif untuk dilakukan antara orangtua dan anak. Apabila usia anak telah di atas 2 tahun, penggunaan gawai sebaiknya dibatasi tidak lebih dari 2 jam per harinya.

Apabila anak telah menunjukkan gejala kecanduan bermain gawai dan telah timbul tanda-tanda keterlambatan bicara, maka orangtua harus waspada. Waktu bermain mereka juga perlu dibatasi. Tidak cukup di situ, orangtua sendiri harus menyingkirkan gawai ketika sedang berinteraksi dengan anak. Agar bisa merangsang komunikasi, orang dewasa harus menstimulasi anak dengan pertanyaan terbuka, seperti “Apa saja yang kamu lakukan seharian ini?”

Terakhir, Anda para orang tua bisa pilih alternatif bermain yang melibatkan interaksi dua arah. Seperti bernyanyi bersama, bermain di luar, membaca buku, membuat kerajinan tangan, dan melakukan aktivitas bermain lainnya bersama-sama. Dengan begitu, selain perkembangan bahasa anak semakin terlatih, ikatan emosi anak dengan orangtua juga akan lebih terbangun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *